Pelatihan Advokasi dan Manajemen Aksi (PEVOMASI) 2025 oleh DPM FMIPA UNESA

Pada Sabtu 13 September 2025, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FMIPA Unesa menyelenggarakan acara Pelatihan Advokasi dan Manajemen Aksi (PEVOMASI) 2025 yang bertempat di Gedung C3 Ruang Kuliah Fisika C3.03.01 FMIPA Unesa. Pelatihan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang konsep advokasi dan strategi dalam mengelola aksi massa. Acara ini berlangsung di bawah koordinasi Fahma Sairil Ulumil Khoiriyah, selaku ketua pelaksana. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan aktivis yang memiliki kepedulian terhadap perjuangan hak-hak masyarakat melalui advokasi. Adapun susunan acara yang dilaksanakan meliputi Pembukaan dan Pembacaan Tata Tertib, Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Unesa, Sambutan-sambutan, Pembacaan Curriculum Vitae (CV) Narasumber, Pemaparan Materi serta Sesi Tanya Jawab, Studi Kasus dan Pembahasan, Ice Breaking, Doa dan Penutup. Pada acara ini terdapat beberapa materi yang dijelaskan, antara lain materi yang pertama menjelaskan tentang manajeman aksi, dan yang kedua menjelaskan tentang advokasi dan retorika.

Pada materi pertama dengan topik Manajemen Aksi, Catur Ambyah Budiono, M.Pd. selaku Ketua Umum MPM Unesa 2020, menjelaskan pentingnya pendekatan sistematis dalam mengatur gerakan kolektif guna mencapai tujuan secara efektif, efisien, dan aman. Ia menekankan bahwa keberhasilan aksi tidak hanya ditentukan oleh banyak peserta, melainkan juga strategi yang tepat, koordinasi lapangan yang baik, disiplin tinggi, serta pemanfaatan media secara optimal. Kak Catur juga memaparkan bahwa pelaksanaan aksi didukung oleh berbagai tim pendukung, seperti tim keamanan, tim medis, logistic, dokumentasi, humas, koordinator lapangan, hingga koordinator umum yang masing-masing memiliki peran masing-masing. Manajemen aksi umumnya dilakukan melalui tiga tahap yakni persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Lebih lanjut, ia menyebutkan bentuk aksi yang umumnya dilakukan antara lain long march dan demonstrasi. Menurutnya, kunci utama dalam manajemen aksi adalah perencanaan matang, kerja sama antarpihak, serta komunikasi yang efektif agar tujuan dapat tercapai tanpa menimbulkan resiko yang tidak diinginkan

Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, Kak Catur menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan manajemen terhadap reaksi selain aksi. Ia menegaskan bahwa reaksi sosial dapat dikelola dengan memahami stimulus yang melatarbelakanginya. Ia juga menyoroti pertanyaan terkait studi kasus Fery Irwandi dan pengalaman peneroran saat demonstrasi, ia menilai bahwa fenomena tersebut tidak lepas dari desain politik tertentu (by design), serta mengaitkan kerusuhan di Indonesia dengan dinamika global yang menguntungkan oknum tertentu.

 

Pada materi kedua, Muhammad Zahirudin Afnan, S.Pd. selaku Menteri Luar Negeri BEM Unesa 2022, menyampaikan materi Advokasi dan Retorika. Ia menjelaskan bahwa advokasi merupakan upaya aktif mahasiswa dalam membela dan memperjuangkan hak serta kepentingan, baik di lingkungan kampus maupun di tengah Masyarakat. Peran advokasi dinilai penting karena dapat memperkuat suara mahasiswa, mengasah kepemimpinan, sekaligus mendorong perubahan sosial yang konstruktif. Lebih lanjut, Kak Afnan menekankan bahwa bidang advokasi mahasiswa mencakup aspek akademik, sosial, kesejahteraan, lingkungan, hingga kebijakan publik, dengan fokus pada kelompok atau individu yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan. Dalam pemaparannya, ia juga meyoroti pentingnya retorika sebagai penunjang efektivitas advokasi. Adapun tiga unsur utama retorika yakni kredibilitas pembicara (ethos), daya tarik emosiaonal (pathos), dan kekuatan argumentasi logis (logos) disebut berperan besar dalam penyampaian pesan yang persuasif. Dengan perencanaan yang matang dan strategi komunikasi yang tepat, advokasi diyakini mampu menjadi instrument efektif dalam mewujudkan perubahan nyata, tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga masyarakat luas.

Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, narasumber memberikan penjelasan terkait strategi lanjutan apabila aspirasi organisasi tidak mendapat respon dari pihak birokrasi, dan menekankan pentingnya langkah persuasif sebelum aksi demonstrasi. Terkait penggunaan bahasa dalam retorika, narasumber menekankan pentingnya memilih bahasa sederhana agar mudah dipahami audiens. Menanggapi pertanyaan tentang cara mengajak mahasiswa FMIPA yang cenderung pendiam untuk menyuarakan aspirasi, narasumber menyarankan penggunaan form aspirasi sebagai media alternatif.